H- 8 Leadership Training Course 2015

poster ltc h-8

 

“Pemimpin itu memberi tanpa harap kembali, bekerja tanpa harap dipuja, berjuang tanpa harap dikenang”

H- 8
LTC GMS 2015
““Become a Great Leader for the Bright Future of Indonesia”
20 – 22 Maret 2015
Ground Camp Kakek Bodo, Pasuruan.

apa dan mengapa LTC?
sesuai namanya LTC atau LEADERSHIP TRAINING COURSE, yaitu kursus pelatihan kepemimpinan bagi calon anggota GMS agar bisa benar2 menjadi anggota GMS. Disini kalian akan dilatih untuk menjadi seorang pemimpin yang tangguh, yang tahan banting namun tetap beretika dan bermoral. LTC merupakan tradisi yang ada di GMS. LTC menjadi gerbang akhir perjalanan panjang menjadi Calon Anggota GMS dan menjadi Gerbang awal untuk menjadi ANGGOTA GERAKAN MAHASISWA SURABAYA .

Persyaratan peserta LTC 2015?
jika telah memenuhi salah syarat dibawah ini, bisa mengikuti LTC 2015:
1.Telah mengikuti Madiksar, atau
2.Telah menulis atau mengirim surat keterangan bahwa tidak mengikuti madiksar, atau
3.Telah aktif membantu project.

Bagaimana jika tidak bisa ikut LTC 2015?
Apabila tidak bisa ikut, maka Calang harus membuat keterangan bahwa tidak bisa ikut beserta alasannya. Status calang yang tidak mengikuti LTC adalah anggota bersyarat. Artinya, calang masih boleh mengikuti segala aktifitas dari gms, masih menjadi keluarga GMS namun agar bisa menjadi anggota GMS secara penuh harus mengikuti ulang LTC tahun berikutnya misal LTC 2016.
So, ayo ikut semuanya..
Rugi loh kalo gak ikutan, kapan lagi bisa bertemu dengan ALB, GMS dari semua angkatan, dan ada juga perwakilan SOMAL yang akan datang. Bisa sharing2 juga, pastinya akan menambah pengalaman dan pelajaran yang tak ternilai harganya. Gak bakal nyesel deh .

For More information:
Nyorita Deririndra (083847199599)
Nyor Adi (087702592189)

[menolak lupa] 11 Maret

Hari ini, Indonesia mengalami peristiwa yang heroik.
Iya, hari ini merupakan hari dimana sejarah politik di Indonesia pernah mengalami gejolak. Hal tersebut dikarenakan sebuah surat yang berisi perintah untuk menerapkan resolusi atas konflik di era 1966.

Surat Perintah Sebelas Maret atau Surat Perintah 11 Maret yang disingkat menjadi Supersemar adalah surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966.
Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu.

Surat Perintah Sebelas Maret ini adalah versi yang dikeluarkan dari Markas Besar Angkatan Darat (AD) yang juga tercatat dalam buku-buku sejarah. Sebagian kalangan sejarawan Indonesia mengatakan bahwa terdapat berbagai versi Supersemar sehingga masih ditelusuri naskah supersemar yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor.

Keluarnya Supersemar

Supersemar

Menurut versi resmi, awalnya keluarnya supersemar terjadi ketika pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengadakan sidang pelantikanKabinet Dwikora yang disempurnakan yang dikenal dengan nama “kabinet 100 menteri“. Pada saat sidang dimulai, Brigadir Jendral Sabur sebagai panglima pasukan pengawal presiden’ Tjakrabirawa melaporkan bahwa banyak “pasukan liar” atau “pasukan tak dikenal” yang belakangan diketahui adalah Pasukan Kostrad dibawah pimpinan Mayor Jendral Kemal Idris yang bertugas menahan orang-orang yang berada di Kabinet yang diduga terlibat G-30-S di antaranya adalah Wakil Perdana Menteri I Soebandrio.

Berdasarkan laporan tersebut, Presiden bersama Wakil perdana Menteri I Soebandrio dan Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh berangkat ke Bogor dengan helikopter yang sudah disiapkan. Sementara Sidang akhirnya ditutup oleh Wakil Perdana Menteri II Dr.J. Leimena yang kemudian menyusul ke Bogor.

Situasi ini dilaporkan kepada Mayor Jendral Soeharto (yang kemudian menjadi Presiden menggantikan Soekarno) yang pada saat itu selaku Panglima Angkatan Darat menggantikan Letnan Jendral Ahmad Yani yang gugur akibat peristiwa G-30-S/PKI itu. Mayor Jendral (Mayjend) Soeharto saat itu tidak menghadiri sidang kabinet karena sakit. (Sebagian kalangan menilai ketidakhadiran Soeharto dalam sidang kabinet dianggap sebagai sekenario Soeharto untuk menunggu situasi. Sebab dianggap sebagai sebuah kejanggalan).

Mayor Jendral Soeharto mengutus tiga orang perwira tinggi (AD) ke Bogor untuk menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor yakni Brigadir JendralM. Jusuf, Brigadir Jendral Amirmachmud dan Brigadir Jendral Basuki Rahmat. Setibanya di Istana Bogor, pada malam hari, terjadi pembicaraan antara tiga perwira tinggi AD dengan Presiden Soekarno mengenai situasi yang terjadi dan ketiga perwira tersebut menyatakan bahwa Mayjend Soeharto mampu mengendalikan situasi dan memulihkan keamanan bila diberikan surat tugas atau surat kuasa yang memberikan kewenangan kepadanya untuk mengambil tindakan. Menurut Jendral (purn) M Jusuf, pembicaraan dengan Presiden Soekarno hingga pukul 20.30 malam.

Presiden Soekarno setuju untuk itu dan dibuatlah surat perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret yang populer dikenal sebagai Supersemar yang ditujukan kepada Mayjend Soeharto selaku panglima Angkatan Darat untuk mengambil tindakan yang perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.

Surat Supersemar tersebut tiba di Jakarta pada tanggal 12 Maret 1966 pukul 01.00 waktu setempat yang dibawa oleh Sekretaris Markas Besar AD Brigjen Budiono. Hal tersebut berdasarkan penuturan Sudharmono, dimana saat itu ia menerima telpon dari Mayjend Sutjipto, Ketua G-5 KOTI, 11 Maret 1966 sekitar pukul 10 malam. Sutjipto meminta agar konsep tentang pembubaran PKI disiapkan dan harus selesai malam itu juga. Permintaan itu atas perintah Pangkopkamtib yang dijabat oleh Mayjend Soeharto. Bahkan Sudharmono sempat berdebat dengan Moerdiono mengenai dasar hukum teks tersebut sampai Supersemar itu tiba.

Beberapa Kontroversi tentang Supersemar

  • Menurut penuturan salah satu dari ketiga perwira tinggi AD yang akhirnya menerima surat itu, ketika mereka membaca kembali surat itu dalam perjalanan kembali ke Jakarta, salah seorang perwira tinggi yang kemudian membacanya berkomentar “Lho ini khan perpindahan kekuasaan“. Tidak jelas kemudian naskah asli Supersemar karena beberapa tahun kemudian naskah asli surat ini dinyatakan hilang dan tidak jelas hilangnya surat ini oleh siapa dan dimana karena pelaku sejarah peristiwa “lahirnya Supersemar” ini sudah meninggal dunia. Belakangan, keluarga M. Jusuf mengatakan bahwa naskah Supersemar itu ada pada dokumen pribadi M. Jusuf yang disimpan dalam sebuah bank.
  • Menurut kesaksian salah satu pengawal kepresidenan di Istana Bogor, Letnan Satu (lettu) Sukardjo Wilardjito, ketika pengakuannya ditulis di berbagai media massa setelahReformasi 1998 yang juga menandakan berakhirnya Orde Baru dan pemerintahan Presiden Soeharto. Dia menyatakan bahwa perwira tinggi yang hadir ke Istana Bogor pada malam hari tanggal 11 Maret 1966 pukul 01.00 dinihari waktu setempat bukan tiga perwira melainkan empat orang perwira yakni ikutnya Brigadir jendral (Brigjen) M. Panggabean. Bahkan pada saat peristiwa Supersemar Brigjen M. Jusuf membawa map berlogo Markas Besar AD berwarna merah jambu serta Brigjen M. Pangabean dan Brigjen Basuki Rahmat menodongkan pistol kearah Presiden Soekarno dan memaksa agar Presiden Soekarno menandatangani surat itu yang menurutnya itulah Surat Perintah Sebelas Maret yang tidak jelas apa isinya. Lettu Sukardjo yang saat itu bertugas mengawal presiden, juga membalas menodongkan pistol ke arah para jenderal namun Presiden Soekarno memerintahkan Soekardjo untuk menurunkan pistolnya dan menyarungkannya. Menurutnya, Presiden kemudian menandatangani surat itu, dan setelah menandatangani, Presiden Soekarno berpesan kalau situasi sudah pulih, mandat itu harus segera dikembalikan. Pertemuan bubar dan ketika keempat perwira tinggi itu kembali ke Jakarta. Presiden Soekarno mengatakan kepada Soekardjo bahwa ia harus keluar dari istana. “Saya harus keluar dari istana, dan kamu harus hati-hati,” ujarnya menirukan pesan Presiden Soekarno. Tidak lama kemudian (sekitar berselang 30 menit) Istana Bogor sudah diduduki pasukan dari RPKAD dan Kostrad, Lettu Sukardjo dan rekan-rekan pengawalnya dilucuti kemudian ditangkap dan ditahan di sebuah Rumah Tahanan Militer dan diberhentikan dari dinas militer. Beberapa kalangan meragukan kesaksian Soekardjo Wilardjito itu, bahkan salah satu pelaku sejarah supersemar itu, Jendral (Purn) M. Jusuf, serta Jendral (purn) M Panggabean membantah peristiwa itu.
  • Menurut Kesaksian A.M. Hanafi dalam bukunya “A.M Hanafi Menggugat Kudeta Soeharto“, seorang mantan duta besar Indonesia di Kuba yang dipecat secara tidak konstitusional oleh Soeharto. Dia membantah kesaksian Letnan Satu Sukardjo Wilardjito yang mengatakan bahwa adanya kehadiran Jendral M. Panggabean ke Istana Bogor bersama tiga jendral lainnya (Amirmachmud, M. Jusuf dan Basuki Rahmat) pada tanggal 11 Maret 1966 dinihari yang menodongkan senjata terhadap Presiden Soekarno. Menurutnya, pada saat itu, Presiden Soekarno menginap di Istana Merdeka, Jakarta untuk keperluan sidang kabinet pada pagi harinya. Demikian pula semua menteri-menteri atau sebagian besar dari menteri sudah menginap diistana untuk menghindari kalau datang baru besoknya, demonstrasi-demonstrasi yang sudah berjubel di Jakarta. A.M Hanafi Sendiri hadir pada sidang itu bersama Wakil Perdana Menteri (Waperdam) Chaerul Saleh. Menurut tulisannya dalam bukunya tersebut, ketiga jendral itu tadi mereka inilah yang pergi ke Istana Bogor, menemui Presiden Soekarno yang berangkat kesana terlebih dahulu. Dan menurutnya mereka bertolak dari istana yang sebelumnya, dari istana merdeka Amir Machmud menelepon kepada Komisaris Besar Soemirat, pengawal pribadi Presiden Soekarno di Bogor, minta izin untuk datang ke Bogor. Dan semua itu ada saksinya-saksinya. Ketiga jendral ini rupanya sudah membawa satu teks, yang disebut sekarang Supersemar. Di sanalah Bung Karno, tetapi tidak ditodong, sebab mereka datang baik-baik. Tetapi di luar istana sudah di kelilingi demonstrasi-demonstrasi dan tank-tank ada di luar jalanan istana. Mengingat situasi yang sedemikian rupa, rupanya Bung Karno menandatangani surat itu. Jadi A.M Hanafi menyatakan, sepengetahuan dia, sebab dia tidak hadir di Bogor tetapi berada di Istana Merdeka bersama dengan menteri-menteri lain. Jadi yangdatang ke Istana Bogor tidak ada Jendral Panggabean. Bapak Panggabean, yang pada waktu itu menjabat sebagai Menhankam, tidak hadir.
  • Tentang pengetik Supersemar. Siapa sebenarnya yang mengetik surat tersebut, masih tidak jelas. Ada beberapa orang yang mengaku mengetik surat itu, antara lain Letkol (Purn) TNI-AD Ali Ebram, saat itu sebagai staf Asisten I Intelijen Resimen Tjakrabirawa.
  • Kesaksian yang disampaikan kepada sejarawan asing, Ben Anderson, oleh seorang tentara yang pernah bertugas di Istana Bogor. Tentara tersebut mengemukakan bahwa Supersemar diketik di atas surat yang berkop Markas besar Angkatan Darat, bukan di atas kertas berkop kepresidenan. Inilah yang menurut Ben menjadi alasan mengapa Supersemar hilang atau sengaja dihilangkan.

Berbagai usaha pernah dilakukan Arsip Nasional untuk mendapatkan kejelasan mengenai surat ini. Bahkan, Arsip Nasional telah berkali-kali meminta kepada Jendral (Purn) M. Jusuf, yang merupakan saksi terakhir hingga akhir hayatnya 8 September 2004, agar bersedia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun selalu gagal. Lembaga ini juga sempat meminta bantuan Muladi yang ketika itu menjabat Mensesneg, Jusuf Kalla, dan M. Saelan, bahkan meminta DPR untuk memanggil M. Jusuf. Sampai sekarang, usaha Arsip Nasional itu tidak pernah terwujud. Saksi kunci lainnya, adalah mantan presiden Soeharto. Namun dengan wafatnya mantan Presiden Soeharto pada 27 Januari 2008, membuat sejarah Supersemar semakin sulit untuk diungkap.

Dengan kesimpangsiuran Supersemar itu, kalangan sejarawan dan hukum Indonesia mengatakan bahwa peristiwa G-30-S/PKI dan Supersemar adalah salah satu dari sekian sejarah Indonesia yang masih gelap.

Source: http://id.wikipedia.org/wiki/Surat_Perintah_Sebelas_Maret

Selamat dan Sukses

Selamat dan sukses kepada Sn. Farisal (Sekjen BP GMS 2014- 2015) dan Sn. Eka Febriansyah (Ketua BPPA 2014- 2015) menjadi Delegate pada The 11th MIST FE UI.

IMG-20150308-WA0004

 

Marketing Insight Seminar and Training (MIST) is The biggest marketing event annually held by Management Student Society (MSS) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sesuai dengan temanya “The Evolution of Urban Market: Cracking Consumer Mind in the Dynamic Era”, para Delegasi akan banyak belajar tentang pemasaran di era urban market dari para narasumber ahli serta akan mempresentasikan hasil paper masing- masing tim.

The 11th MIST FEUI dilaksanakan selama 6 hari, dari tanggal 1 – 6 maret 2015. Pelaksanaan acara ini di bagi menjadi 3 tempat, di Kafe Gumati Bogor, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Hotel Santika Depok. Selama 6 hari para delegasi di “gembleng” menjadi seorang marketing. Serta saling berbagi ilmu dan pengetahuan antar para delegasi.

IMG-20150309-WA0012

 

Terus berjuang

Terus berkontribusi buat negeri

 

Alih Subsidi dan Kartel Energi

Pemimpin Negara sudah selesai promosi dari luar negeri. Di sana, harga isi per barel menurun, alih-alih ia kembali dengan pidato alih subsidi.

Subisidi itu gizi tulang belakang ekonomi, jika tidak tepat maka sulit baginya untuk berdiri sejajar walau ditopang kartu sakti. Konversi ditujukan untuk sektor produksi, mulai malam ini selisih nilai bahan bakar ditulis di kertas dengan gambar Pangeran Antasari.

Energi merupakan barang mahal. Ia membentang luas dari akar hingga ke ujung kepala. Kurang 1 sen energi, maka produksi optimal jauh dari kenyataan. Kondisi itu, menarik perhatian kartel yang haus kekayaan. Praktiknya, mengeksploitasi minyak dan gas dari tanah air.

Kekuasaan adalah kenikmatan politik, ketamakan bersembunyi di dalamnya. Pengetahuan teknokrat atas kekayaan alam perlu pembuktian iman. Tetapi, lagi-lagi kehendak kesejahteraan rakyat dihadapkan dengan tantangan. Lembaga yang sah, bisa menjadi wadah yang menyuburkan praktik mafia migas, jika penyelenggaraannya tidak sesuai dengan tujuan konstitusi.

Analisis terhadap pola, dimensi struktural, juga potensi korupsi perlu ditelisik oleh penyidik untuk mengurai mafia di sektor migas. Tim ad hoc bertugas menata konstruksi permanen, untuk mendirikan ruang transparan dengan pintu inklusif yang mereduksi kelompok pemburu rente.

Pengaturan yang longgar perlu dikencangkan secara intensif dengan sabuk kebijakan terstruktur dalam setiap rantai nilai industri migas untuk menekan pemain “berperut buncit”. Hal ini, perlu diselenggarakan agar pemerintah mampu menerabas halangan untuk mencapai kedaulatan energi.

 Namun, rancangan tidak selalu sesuai dengan penerapan. Akan selalu ada, episode-episode aparat yang manut pada aktor bisnis politik. Dengan skenario terus membisiki jantung dan lebih terdengar menghalangi suara hati rakyat.

 

Penulis: @Wordplay_er (Sekretaris Jenderal @SOMAL65 Periode 2014-2015)

Foto: @Wordplay_er

GMS Family Nobar

10383483_10203612249806642_7193050113418228694_n

 

Setelah Sukses mengadakan roadshow film Mantan Terindah di Surabaya, anggota Gerakan Mahasiswa Surabaya nonton bareng bersama para pemain Film Mantan Terindah di XXI Ciputra World Surabaya.

Sebelum nonton bareng, ada meet and greet pemain Film Mantan Terindah.

1798541_10203611809395632_8629941333588588799_n

10686939_10203606281457437_5175979663666544688_n

Bagi yang belum nonton Film Mantan Terindah, buruan nonton.

Ceritanya bagus dan recomended.

 

Masa Pendidikan Dasar (MADIKSAR)

GMS Yo Iyo Rek !!!

Mahasiswa adalah representasi kepemudaan. Energi yang dimiliki pemuda, akan menjadi kekuatan yang menjajikan bila mendapatkan tempat yang akomodatif. Tidak harus menunggu nanti untuk menciptakan perubahan, karena di sanalah arti penting dari organisasi pemuda. Dengan semangat independensi dan kekeluargaan, kehadiran GMS return di antara beragam organisasi-komunitas di Surabaya, berusaha untuk mengakomodasi luapan energi pemuda dan menjadi tempat bagi pemimpin muda untuk berproses secara cerdas.

MADIKSAR “Masa Pendidikan Dasar” merupakan bentuk kegiatan penjaringan calon anggota GMS yang menjadi gerbang depan masuknya anggota baru GMS sebagai tindak lanjut komitmen atas deklarasi “GMS Returns” pada tahun 2009 dan kebutuhan untuk mempertahankan eksistensi organisasi dan semangat independen. MADIKSAR Tidak hanya menjadi pintu masuknya generasi penerus GMS, tapi juga menjadi arena munculnya pemimpin-pemimpin berkualitas di era kekinian.

Pelaksanaan MADIKSAR 2014
Hari/Tanggal : Sabtu-Minggu/22-23 November 2014
Lokasi : Wisma Sejahtera. Jl Ketintang Selatan No.77 SBY

Almamater, Nusa dan Bangsa Loyalitasku